Sastra

Metromini dan Ultah Nadya

Lengkaplah catatan kebencianku pada Metromini.

Kebencian pertama pada kesombongan Metromini saat serombongan anak sekolah berusaha menyetopnya. Kesombongan dengan lewat begitu saja sambil mendenguskan asap hitam yang menyesakkan dada dan memerihkan mata. Seakan enggan mengangkut kami, yang menurut perhitungan hanya bikin sesak, sementara bayarannya hanya seribu perak. Sombong sekali! Perhitungan tanpa pernah mempertimbangkan bagaimana keringat dingin dan keresahan menggelayuti hati. Apalagi ketika jarum jam merangkak mendekati pukul tujuh pagi.

Kebencian kedua pada sesak, panas dan bau tak sedap ketika berada di dalamnya. Sama sekali tidak nyaman, bahkan terasa kurang manusiawi. Ngebut dan menyalip seenak perut sopirnya. Berhenti mendadak di sembarang tempat. Seolah bukan mengangkut manusia, tapi onggokan ikan teri dalam bungkus daun pisang siap pepes. Mentang-mentang harus mengejar setoran. Ketika diprotes sang sopir hanya tersenyum, sambil menunjuk tempelan stiker: Anda Perlu Waktu Kami Perlu Uang.

Kondisi Metromini itulah yang menggulirkan puncak kebencian, ketika sesak dan panasnya membuat kue ulang tahun temanku, Nadya menjadi, “Oh La… la….”

— oOo —

Sebenarnya tidak akan pernah ada puncak kebencian itu, kalau saja aku tidak memaksakan diri untuk merayakan ulang tahun ke enam belas Nadya. Walaupun dia memberi catatan, “Kecil dan sederhana,” seharusnya aku bisa menyadari keadaan ekonomi keluarganya. Bukan sekedar menuruti kehendak, “The show must go on”.

Semua teman merayakan ulang tahun ke enam belas dengan pesta. Hampir semuanya beranggapan, inilah saat istimewa dalam perjalanan hidup. Jadi diapun harus bisa merayakannya. Kapan lagi? toh ulang tahun ke enam belas, hanya datang sekali seumur hidup.

Semua teman-teman sudah tahu tanggal ulang tahunnya. Apalagi di akun fesbuknya tertera jelas. Ah… mengapa tak disembunyikan saja. Pasti akan ada banyak pertanyaan yang menyerbu.

Pesta kecil dan sederhana. Nasi uduk, nasi kuning dan assesoris pendukungnya. Untuk kue ulang tahun, ibu akan memesan khusus pada Jeng Eva, temannya yang sudah terbiasa membuat aneka kue. Bisa lebih murah, katanya. Nasi dan perlengkapannya bisa memasak sendiri.

Tapi sepertinya masih ada yang kurang dan belum lengkap. Ya, bagaimana mungkin pesta ulang tahun tanpa balon, kertas warna-warni, permen, cemilan dan kue-kue? Akupun mencoba melobi salah satu saudaraku. Melobi dengan mencatut nama Amel, teman akrabku. Sebuah senjata ampuh karena diam-diam saudaraku itu menyukainya.

Jadi lengkapnya sudah! Tidak terlalu mengecewakan untuk pesta kecil dan sederhana.

— oOo —

Aku memandang kue ulang tahun itu dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena haru, tetapi lebih karena kekecewaan mendalam. Hampir saja aku tidak bisa membendung aliran tangis. Rasa malu pada Amel, Randy dan seorang tetangga yang suka rela membantu memasak di dapur membuat aku bisa mengendalikan diri. Semua perasaan bercampur aduk menjadi sesak yang memenuhi rongga dada.

Kami berlima mengelilingi meja, memandang sebentuk karya seni rupa abstrak. Bunga-bunga cokelat yang meleleh. Pilar-pilar kue yang tak lagi kokoh. Kue ulang tahun yang tidak lagi persegi empat. Terkutuklah Metromini! Hatiku meruntuk.

Ibu kulihat hanya terdiam. Sepertinya dia merasa serba salah. Ibu pasti telah berusaha sebaik-baiknya. Terseok-seok seorang diri sambil membawa belanja yang banyak. Menyibak keramaian pasar tradisional dan sesak Metromini. Semuanya telah mendesak dan menghancurkan kontruksi kue ulang tahunku.

Untuk beberapa saat semua yang ada dalam ruang tamu hanya bisa terdiam. Pandangan tertuju pada satu arah, sibuk dengan jalan pikirannya sendiri-sendiri. Ada sesuatu mendesak dadaku. Malapetaka apa ini.

“Tuhan, tak bolehkan dia sedikit merasakan kebahagiaan. Sesuatu yang akan sedikit kuberi arti. Sekali saja seumur hidup. Tak bolehkah?” Kata hatiku seperti hendak menggugat.

Apa kata dunia dan komentar teman-temanku nanti? Ah, aku tidak bisa membayangkan semuanya. Pasti dalam sekejab, berita kue ulang tahun yang reyot akan menyebar menjadi berita yang memalukan.

— oOo —

Jam di dinding menunjukkan pukul 12 tepat. Tiga jam lagi pesta ulang tahun Nadya akan dimulai. Dengan kue abstrak ini? Tapi sepertinya tak mungkin lagi untuk memesan atau membeli kue ulang tahun lagi. Mau merengek pada siapa lagi?

Akhirnya Randy dan Amel berinisiatif untuk memodifikasi kue ulang tahun abstrak itu. Sepertinya memang itu jalan paling realistis. Poles sana sini dan menghilangkan beberapa bagian yang terlihat begitu parah kemudian ditutup dan disamarkan dengan lilin dan bunga-bunga kertas. Walaupun terlihat lebih sederhana tapi cukup memuaskan hasilnya. Setidaknya dibandingkan sesuatu yang abstrak.

— oOo —

Haruskah aku menambah lagi sebuah catatan kebencian?

Memang apalah daya manusia ketika menghadapi kehendak alam. Pukul satu siang, langit tiba-tiba saja menjadi hitam. Mendung menutupi pancaran sinar matahari. Ah, jangan sampai hujan deras mengguyur. Sehari saja Tuhan. Ijinkan terang matahari terbagi setengah hari lagi. Nanti malam silakan hujan mendera bumi sederas-derasnya.

Mendung perlahan menambah kepekatanya. Beberapa kali aku berdiri di depan pintu memandangi langit. Ada perasaan was-was menyelinap. Kesadaranku tersentak oleh kilatan petir. Suasana berubah muram ketika rintik-rintik hujan mulai memukul atap.

Begitulah, manusia memang hanya bisa berkehendak dan berusaha. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga tepat. Teman-temanku belum juga ada yang datang. Keresahanku membuncah. Perasaan cemas dan kesal berkumpul menjadi sembab yang menyelimuti mata. Randy dan Amel berusaha menghiburku. Kami sepakat untuk mengundur acara pesta satu jam lagi.

Kehendak alam tak selamanya kejam. Pukul setengah empat sore, hujan mulai meredakan derasnya, berganti menjadi rintik gerimis. Ada harapan baru menyelinap. Akhirnya Nadya pun pulang dari keriuhan lesnya. Membuat hatiku makin berdebar ketika dia mendapat surprise kue itu. Apakatanya nanti ketika melihat Cuma sebongkah kue runtuh yang kuberikan? “Ah sudahlah, apapun yang terjadi itu sudah sangat berarti bagiku”, celetuknya.

Beberapa temanku pun mulai berdatangan. Rupanya hujan deras memang mengubah banyak rencana. Beberapa teman mengontak handphone Randy, menyatakan penyesalannya karena tidak bisa hadir. Alasan hujan, ketiduran sampai persiapan rencana ngedate malam minggu.

Egois, pikirku. Bukankah masih banyak malam minggu berderet rapi di kalender? Atau jangan-jangan karena Nadya memang tidak terlalu penting bagi mereka. Seorang yang biasa saja, tidak begitu cantik dan tak pernah akan populer. Nadya penting bagiku! Atau mereka enggan bersusah payah melewati gang sempit menuju pintu rumahnya yang kecil ini? Ah jangan perdulikan yang tidak mau datang. Jangan sampai kegembiraan Nadya hilang hari ini.

Begitulah, pesta ulang tahun ke enam belas itu memang benar-benar kecil dan sederhana. Berbagai perasaan berkecamuk ketika Nadya harus meniup lilin dan teman-teman yang hadir menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Ketika potongan kue pertama dia berikan kepadaku, dia memelukku erat sambil membisikkan sesuatu.

“Terima kasih Syad, atas semua kebaikan dan kesabaran kamu.”

Aku terharu melihat Nadya berlinang air mata. ”Selamat ulang tahun, Nad. Maafkan aku yang tidak bisa memberikan banyak hal padamu. Semoga kamu makin cantik.” Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa aku tahu aku mengucapkannya. “Cieee yang temen tapi mesra”, tanpa kusadari ternyata sudah banyak sekali temanku yang datang. Ah! Tak usah kupikirkan.

— oOo —

Akankah bertambah lagi catatan kebencianku pada Metromini?

Tubuhku kembali terhimpit sesak penumpang Metromini 53 jurusan Kampung Rambutan – Kampung Melayu. Hari ini angkutan umum ibukota itu tidak lagi sombong karena aku menyetopnya dekat orang-orang kantoran. Kalau bergerombol dengan sesama anak sekolah, biasanya Metromini lewat begitu saja.

Keringat mulai mengaliri wajahku. Disekap sesak penumpang, aku hanya bisa berharap semoga berita tentang kue ulang tahunku yang rusak tidak bocor kemana-mana. Tapi sepertinya Randy dan Amel bisa dipercaya.

Tiba-tiba sebuah colekan terasa di pundakku. Pasti kernet, pikirku. Serta merta kukeluarkan selembar uang dan menyerahkannya tanpa menoleh.

”Maaf, saya bukan kernet.”

Ketika menengok ke arah datangnya suara, seketika wajahku merah padam, “Nadya? Biasanya kamu bersama ortumu?”. Sepenggal kisah dimulai lagi di mertomini yang padat. Namun bukan kisah sedih, kali ini kisah cinta “Maaf ya karena tadi mengira kamu itu kernet. Habis colak-colek sih.”

“Iya gapapa kok. Mulai sekarang aku nggak dianter lagi. Malu lah udah SMA“

Tiba-tiba kurasakan bergejolak dalam dada ketika menatap wajah dan senyumnya.

“Bagaimana kalau mulai besok kita berangkat bareng saja?” katanya

Aku mengangguk. Bagaimana mungkin menolak ajakan simpatik itu. Aku merasakan sesuatu yang bergelora. Dalam sesak metromini ternyata Tuhan masih mau berbagi sebersit kebahagiaan.

Sepertinya mulai besok harus kuhapus catatan kebencianku pada Metromini.

— oOo —

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s